Sambut HUT ke-81 RI, Pemuda Pathuk Bangun Jalan Antar-Dusun dari Kocek Pribadi

Caption : Glory Satriatama bersama Camat Pagerwojo dilokasi pembangunan jalan.

TULUNGAGUNG,kompasnusantara.id – Semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak selalu diwujudkan melalui upacara, perlombaan maupun kemeriahan seremonial.

Di Dusun Pathuk, Desa Kradinan, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, semangat kemerdekaan justru hadir dalam bentuk nyata: sebuah pembangunan sarana dan prasarana jalan yang dibiayai dari kocek pribadi seorang pemuda desa.

Adalah Glory Satriatama, pemuda asal Dusun Pathuk yang sehari-hari menjalankan usaha di Surabaya. Di tengah kesibukannya membangun kehidupan di perantauan, Glory memilih menyisihkan sebagian hasil jerih payahnya untuk membantu membangun akses jalan yang menghubungkan wilayah antar-dusun.

Langkah tersebut bukan sekadar pembangunan fisik. Bagi masyarakat, keberadaan jalan memiliki arti penting karena berkaitan langsung dengan mobilitas, aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan sosial hingga interaksi warga sehari-hari.

Menariknya, pembangunan tersebut dilakukan bukan karena tuntutan jabatan maupun kepentingan politik.

Glory secara tegas menyebut langkah yang dilakukannya murni lahir dari rasa syukur dan kecintaannya terhadap kampung halaman.

“Kegiatan ini murni saya lakukan karena ketulusan hati saya untuk kampung halaman saya, serta tidak ada unsur apa pun, bahkan politik. Semua karena wujud rasa syukur saya kepada Allah SWT dan kecintaan saya kepada kampung halaman,” ujar Glory Satriatama, yang akrab disapa Mas Glory Jadug.

Pulang Bukan Sekadar Menjenguk Keluarga

Kisah Glory menjadi gambaran berbeda tentang seorang anak muda yang merantau ke kota.

Ia pergi ke Surabaya untuk bekerja dan membangun usaha. Namun keberhasilan di perantauan tidak membuatnya melupakan tempat di mana dirinya tumbuh dan mengenal kehidupan.

Ketika memiliki kemampuan, sebagian hasil perjuangannya justru dikembalikan kepada masyarakat.

Bagi Glory, kampung halaman bukan sekadar tempat kelahiran, tetapi bagian dari perjalanan hidup yang memiliki nilai dan tanggung jawab moral.

“Pergi untuk berkembang, pulang membawa manfaat,” menjadi gambaran sederhana dari langkah yang dipilihnya.

Pembangunan jalan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus menunggu program pemerintah. Masyarakat juga dapat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.

Dihadiri Camat Pagerwojo

Kegiatan pembangunan tersebut turut dihadiri Camat Pagerwojo Wahyu Yuniarko, S.E., M.A.P.

Kehadiran pemerintah kecamatan menjadi bagian penting dalam kegiatan yang menyentuh kepentingan masyarakat tersebut.

Pembangunan infrastruktur selama ini memang identik dengan program pemerintah. Namun, partisipasi masyarakat melalui semangat gotong royong menjadi salah satu kekuatan penting dalam mempercepat terwujudnya fasilitas yang dibutuhkan warga.

Terlebih, akses jalan di wilayah pedesaan bukan hanya persoalan infrastruktur.

Jalan menjadi urat nadi aktivitas masyarakat. Ketika akses membaik, pergerakan warga menjadi lebih mudah, aktivitas ekonomi lebih lancar, dan hubungan sosial antarmasyarakat semakin terbuka.

Warga Sambut Positif

Masyarakat sekitar menyambut baik kepedulian yang ditunjukkan Glory.

Bagi warga, apa yang dilakukan pemuda tersebut bukan hanya soal membangun jalan, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan tempat ia dilahirkan.

Seorang warga menilai langkah Glory patut diapresiasi karena meski bekerja dan menjalankan usaha di Surabaya, dirinya masih memberikan perhatian terhadap kondisi kampung halaman.

Warga berharap kepedulian tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pemuda lainnya.

Tidak harus dengan membangun jalan atau mengeluarkan dana besar. Kepedulian dapat dilakukan melalui berbagai bentuk sesuai kemampuan masing-masing.

Memaknai Kemerdekaan dari Kampung

Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kisah Glory memberikan perspektif lain tentang bagaimana kemerdekaan dapat dimaknai.

Kemerdekaan tidak hanya tentang bendera merah putih yang berkibar atau perayaan yang meriah.

Kemerdekaan juga dapat diwujudkan melalui keberanian untuk berbuat sesuatu yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Glory memilih jalannya sendiri.

Ia bekerja di kota, membangun usaha, mengejar masa depan, namun tetap membawa kampung halaman dalam perjalanan hidupnya.

Ketika kesempatan datang, ia memilih pulang bukan sekadar untuk melepas rindu kepada keluarga, tetapi juga membawa sesuatu yang bisa dirasakan masyarakat.

Di tengah banyaknya anak muda yang meninggalkan desa untuk mencari masa depan di kota, kisah Glory memperlihatkan sisi lain dari kehidupan perantauan.

Pergi untuk mencari kehidupan, pulang untuk memberi manfaat.

Sebuah jalan mungkin terlihat sederhana. Namun di balik jalan itu ada pesan yang jauh lebih besar: bahwa pembangunan dan kemajuan tidak selalu harus menunggu tangan pemerintah.

Kadang, perubahan justru dimulai dari kepedulian seorang warga.

Dari hasil jerih payah sendiri.

Dari kecintaan terhadap tanah kelahiran.

Dan dari keinginan sederhana untuk membuat kampung halaman menjadi sedikit lebih baik.

Karena nasionalisme tidak selalu lahir dari panggung besar. Kadang, ia tumbuh dari jalan kecil di kampung sendiri.

(Mendoza) 

Posting Komentar

0 Komentar