SUMENEP, Kompas Nusantara – Ketika masyarakat rela berjibaku di bawah guyuran hujan dan gelapnya malam demi memperbaiki jalan rusak, pertanyaan besar justru mengarah pada satu pihak: pemerintah desa, ke mana?
Pemandangan ironi itu terjadi di Desa Daramista, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Selasa (29/4/2026). Warga bersama tokoh pemuda bahu-membahu memperbaiki jalan rusak menuju destinasi wisata Boekit Tinggi. Tanpa alat berat, tanpa anggaran resmi, dan tanpa kehadiran pemerintah desa, masyarakat bergerak sendiri—mengandalkan swadaya.
Di saat warga “gaspol” mengumpulkan uang dan tenaga, pemerintah desa justru seolah absen dalam tanggung jawab yang seharusnya menjadi kewajibannya.
Salah satu warga, As’, menegaskan bahwa kondisi jalan sudah lama rusak dan membahayakan, terutama saat musim hujan.
“Ini bukan baru rusak kemarin. Sudah lama. Kalau hujan, sangat berbahaya. Tapi ya begitu, tidak ada tindakan,” ujarnya dengan nada kecewa.
Fakta bahwa warga harus turun tangan sendiri memperbaiki infrastruktur dasar menjadi tamparan keras bagi pemerintah desa. Jalan desa bukan fasilitas pribadi, melainkan kebutuhan publik yang seharusnya menjadi prioritas utama penggunaan anggaran desa.
Fenomena ini memperlihatkan dua hal sekaligus: kuatnya solidaritas masyarakat, dan lemahnya kehadiran negara di tingkat paling bawah.
Lebih ironis lagi, jalan tersebut merupakan akses menuju lokasi wisata Boekit Tinggi yang seharusnya bisa menjadi sumber peningkatan ekonomi desa. Namun, alih-alih didukung dengan infrastruktur layak, aksesnya justru dibiarkan rusak hingga warga terpaksa turun tangan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka wajar publik mempertanyakan: ke mana anggaran desa dialokasikan? Dan sejauh mana pemerintah desa benar-benar hadir untuk masyarakatnya?
Swadaya memang mulia, tetapi jika terus menjadi solusi utama, maka itu bukan lagi gotong royong—melainkan bentuk keterpaksaan akibat pembiaran.
Masyarakat kini tidak hanya butuh apresiasi, tetapi juga aksi nyata. Sebab, jalan rusak tidak bisa diperbaiki hanya dengan janji.
(Red/Yadi)


0 Komentar