Alih-alih mendapatkan penjelasan mengenai keberadaan kendaraan dan kepastian pengembaliannya, Imam mengaku justru mendapat bentakan dan pernyataan bernada keras dari Kepala Desa Kemiri, Wiji.
Menurut keterangan Imam, dirinya datang dengan maksud menyelesaikan persoalan secara baik-baik. Namun, pembicaraan justru berlangsung tegang.
Imam menyebut Wiji bersikeras mengatakan bahwa kendaraan tersebut sudah diambil oleh pemiliknya. Pernyataan itu sontak dibantah Imam karena dirinya mengaku tidak pernah menerima kembali kendaraan tersebut.
Dalam situasi tersebut, Imam melontarkan ucapan, “Kok aneh, kok sudah hilang akal kamu itu.”
Persoalan menjadi semakin serius karena, menurut Imam, dirinya juga disebut akan dilaporkan balik apabila terus mempersoalkan kendaraan tersebut.
“Saya datang baik-baik untuk menanyakan kendaraan saya. Justru saya dibentak dan malah diancam akan dilaporkan balik. Kalau memang kendaraan itu sudah dikembalikan, saya minta tunjukkan buktinya,” ujar Imam.
KLAIM “SUDAH DIAMBIL” DIPERTANYAKAN
Pernyataan bahwa kendaraan telah diambil menjadi titik utama yang dipersoalkan Imam.
Ia mempertanyakan kapan kendaraan tersebut dikembalikan, kepada siapa diserahkan, siapa yang menyaksikan, serta apakah terdapat bukti serah-terima kendaraan.
“Kalau memang benar sudah dikembalikan, sederhana saja. Tunjukkan bukti penyerahan, siapa yang menerima dan kapan kendaraan itu diserahkan,” tegasnya.
Imam menilai persoalan tersebut tidak semestinya diselesaikan dengan bentakan maupun ancaman laporan balik. Menurutnya, yang dibutuhkan justru adalah keterbukaan mengenai keberadaan kendaraan.
BUKAN SEKADAR URUSAN SEWA-MENYEWA?
Di sisi lain, Imam mengungkapkan adanya dugaan persoalan serupa yang disebut pernah dialami pihak lain. Namun, seluruh informasi tersebut masih berupa keterangan dan tuduhan yang perlu diverifikasi serta dibuktikan melalui dokumen, saksi, maupun proses penegakan hukum.
Karena itu, muncul tuntutan agar persoalan tersebut tidak berhenti pada saling bantah antara pemilik kendaraan dan kepala desa.
Jika benar terdapat kendaraan milik masyarakat atau pihak lain yang belum dikembalikan, maka keberadaannya harus dapat dijelaskan secara terang.
Begitu pula apabila pihak Kepala Desa Kemiri memiliki bukti bahwa kendaraan memang telah dikembalikan, bukti tersebut dinilai penting untuk disampaikan guna mengakhiri polemik.
KONFIRMASI MEDIA: KADES WIJI PILIH BUNGKAM
Upaya konfirmasi juga telah dilakukan Kompas Nusantara kepada Kepala Desa Kemiri, Wiji, melalui WhatsApp pada Minggu (30/8/2026).
Konfirmasi tersebut secara khusus meminta penjelasan mengenai pernyataannya bahwa kendaraan dimaksud telah diambil oleh pemilik.
Media juga meminta klarifikasi mengenai kapan kendaraan tersebut dikembalikan, kepada siapa diserahkan, serta bukti apa yang dimiliki terkait pengembalian kendaraan.
Namun hingga berita ini ditulis, Wiji belum memberikan jawaban atas konfirmasi tersebut dan memilih bungkam.
Sikap tersebut tentu menjadi bagian penting dalam pemberitaan ini. Namun, bungkamnya pihak yang dikonfirmasi tidak dapat serta-merta dimaknai sebagai pengakuan atas tuduhan. Penjelasan resmi dari Wiji tetap diperlukan agar pemberitaan berimbang dan publik memperoleh gambaran dari kedua belah pihak.
DORONG PEMBUKTIAN, BUKAN SALING INTIMIDASI
Imam menegaskan dirinya tidak akan mundur dan berencana membawa persoalan tersebut melalui jalur hukum apabila kendaraan miliknya memang tidak dikembalikan.
Ia menyatakan siap menyerahkan bukti-bukti yang dimiliki kepada aparat penegak hukum.
“Kalau memang ada bukti bahwa mobil sudah dikembalikan, silakan ditunjukkan. Kalau tidak ada, kami akan menempuh jalur hukum. Kami tidak ingin persoalan ini selesai hanya dengan saling membentak atau mengancam laporan,” kata Imam.
Persoalan ini kini menjadi ujian bagi transparansi dan akuntabilitas seorang kepala desa.
Apalagi, apabila benar terdapat hubungan hukum terkait kendaraan yang disewa, maka penyelesaiannya seharusnya dilakukan berdasarkan bukti dan mekanisme hukum, bukan melalui tekanan ataupun adu emosi.
Publik pun menunggu: di mana sebenarnya kendaraan tersebut, kapan dikembalikan, kepada siapa diserahkan, dan apa bukti pengembaliannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya dapat dijawab secara terang melalui bukti dan klarifikasi dari pihak-pihak terkait.
Kompas Nusantara akan terus mengikuti perkembangan kasus ini dan memberikan ruang hak jawab serta klarifikasi kepada Kepala Desa Kemiri, Wiji, maupun pihak-pihak lain yang disebut dalam pemberitaan.
Redaksi

0 Komentar