Oleh Kompasnusantara.id 21/04/2026
Tulungagung sedang tidak baik-baik saja. Luka akibat skandal korupsi belum kering, rasa malu belum hilang, tapi rupanya sebagian pejabatnya sudah kembali santai—bahkan terlalu santai.
Senin siang, 20 April 2026, pukul 13.30 WIB. Jam kerja masih berjalan, rakyat masih berharap pelayanan, tapi sebuah mobil dinas berpelat AG 1240 RP justru “beristirahat” manis di sebuah warkop. Entah siapa pejabat di balik kemudi, yang jelas satu hal: rasa tanggung jawabnya tampaknya ikut parkir.
Mungkin bagi oknum itu, mobil dinas hanyalah kendaraan gratis. Bahan bakar tinggal isi, perawatan tinggal pakai, dan yang paling nikmat—tidak perlu keluar uang pribadi. Tinggal duduk, pesan kopi, lalu biarkan waktu kerja menguap bersama asap rokok.
Beginikah wajah ASN yang digaji dari pajak rakyat?
Di atas kertas, ASN adalah pelayan masyarakat. Tapi di lapangan, sebagian justru lebih mirip pelanggan tetap warung kopi. Bedanya, pelanggan biasa bayar sendiri. Yang ini? Bisa jadi “ditanggung negara”.
Yang lebih menarik, pilihan tempatnya pun bukan sekadar warkop biasa. Ada kesan kuat bahwa tempat itu bukan ruang profesional, melainkan “Tempat santai Romantis ”. Jika benar, maka ini bukan lagi soal malas bekerja—ini soal mental pejabat yang merasa kebal, seolah jabatan adalah tameng untuk berbuat sesuka hati.
Ironi terbesar? Semua ini terjadi saat Tulungagung sedang berbenah setelah dihantam kasus besar. Rakyat berharap ada perubahan, tapi yang muncul justru kelakuan lama dengan wajah tanpa rasa bersalah.
Seolah-olah pesan yang ingin disampaikan sederhana:
“Kasus boleh ramai, tapi kebiasaan lama tetap jalan.”
Lalu di mana atasan? Apakah tidak melihat, atau pura-pura buta? Atau mungkin ini bukan lagi pelanggaran, melainkan budaya? Jika benar demikian, maka jangan heran jika kepercayaan publik terus jatuh. Bukan karena satu kasus besar saja, tapi karena ribuan perilaku kecil yang dibiarkan.
Mobil dinas itu bukan sekadar kendaraan. Itu simbol amanah. Tapi di tangan yang salah, ia berubah jadi alat pelesiran, bahkan mungkin alat mencari “kenikmatan” di jam kerja.
Kalau sudah begini, jangan salahkan rakyat jika mulai bertanya dengan nada sinis:
Apakah mereka ini benar-benar bekerja, atau hanya sedang menikmati fasilitas negara dengan kedok jabatan?
Tulungagung tidak butuh pejabat yang pandai mencari tempat ngopi di jam dinas. Yang dibutuhkan adalah mereka yang tahu malu—sesuatu yang tampaknya mulai langka.

0 Komentar