Sumenep, kompasnusantara.id – Nama Joko Satrio, mantan PLT Camat Batuan yang kini menjabat sebagai Staf Ahli Bupati Sumenep bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Keuangan, menjadi sorotan warga. Ia dinilai meninggalkan sejumlah persoalan serius pasca mengakhiri masa jabatannya di Kecamatan Batuan.
Sorotan pertama mengarah pada penunjukan Farid sebagai Penjabat (PJ) Kepala Desa Gunggung. Warga menilai, PJ tersebut tidak menjalankan roda pemerintahan secara independen dan diduga hanya menjadi “boneka”.
“PJ Farid terkesan tidak punya kendali penuh. Banyak kebijakan masih berada di bawah pengaruh salah satu perangkat desa,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Tak hanya itu, dugaan kedua yang mencuat adalah adanya indikasi kongkalikong dalam proyek pembangunan dua jembatan di Desa Gunggung. Proyek yang semestinya rampung pada tahun 2025 itu justru baru selesai pada pertengahan 2026.
“Seharusnya sebagai PLT Camat, Joko Satrio bertindak tegas. Minimal menegur PJ kepala desa yang lalai, terutama terkait pembangunan jembatan di Dusun Cangcangan,” lanjut warga tersebut.
Menurutnya, posisi camat sangat jelas sebagai pembina dan pengawas penyelenggaraan pemerintahan desa yang bertanggung jawab langsung kepada bupati. Karena itu, ia mempertanyakan lemahnya pengawasan yang terjadi.
“Masak sekelas camat bisa ‘dikadalin’ oleh PJ dan perangkat desa? Ini jadi aneh, kecuali memang ikut dalam skenario tersebut,” tegasnya.
Warga pun mendesak Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) serta Bupati Sumenep untuk segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi di Desa Gunggung.
Mereka khawatir, berbagai anggaran dan bantuan yang masuk ke desa hanya menjadi ajang “bancakan” oleh segelintir oknum.
“Kami minta ada pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh bantuan yang masuk ke Desa Gunggung,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai berbagai tudingan tersebut.
(Red/)

0 Komentar