PKBM Ajisaka Kediri Jadi Harapan Baru: Solusi bagi Masyarakat Putus Sekolah

 

KEDIRI, Kompasnusantara.id — Kehadiran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) kembali menunjukkan peran strategisnya dalam membuka akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat. Salah satunya melalui PKBM Ajisaka di Kabupaten Kediri yang menjadi wadah bagi ratusan warga untuk melanjutkan pendidikan melalui program kejar paket. 08/04/2026

Berdasarkan data dalam sistem Dapodik, jumlah peserta didik di PKBM Ajisaka mencapai 1.111 siswa, terdiri dari 667 laki-laki dan 444 perempuan. Angka ini mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap pendidikan nonformal, khususnya bagi mereka yang sebelumnya putus sekolah.

Pengelola PKBM Ajisaka, Bapak Pardi, S.Pd, menjelaskan bahwa sistem pembelajaran di PKBM memang berbeda dengan sekolah formal. Kegiatan belajar tidak harus dilakukan setiap hari, melainkan lebih fleksibel, menyesuaikan kondisi peserta didik.

“PKBM itu sekolah nonformal. Banyak peserta didik kami yang sudah bekerja, bahkan ada yang usianya di atas usia sekolah. Mereka tetap ingin belajar membaca dan menulis dengan baik. Di sinilah peran kami untuk mendampingi,” ujarnya.

Dengan jumlah kelas sebanyak 9 dan rombongan belajar (rombel) mencapai 45, proses pembelajaran tetap berjalan secara terstruktur meski dilakukan secara berkala, seperti satu hingga dua kali dalam seminggu. Pola ini dinilai efektif bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu namun tetap ingin mendapatkan pendidikan.

Program kejar paket yang dijalankan PKBM juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menekan angka putus sekolah sekaligus mengurangi buta huruf di Indonesia. Fleksibilitas sistem menjadi kunci utama keberhasilan program ini, karena mampu menjangkau kelompok masyarakat yang tidak terakomodasi dalam pendidikan formal.

Dukungan terhadap keberadaan PKBM juga datang dari berbagai pihak. Wakil Ketua LSM Pelita Prabu, Mas Adi, menilai bahwa PKBM merupakan solusi nyata bagi masyarakat yang tertinggal dalam pendidikan.

“PKBM ini sangat membantu, terutama bagi masyarakat yang putus sekolah atau yang belum bisa membaca dan menulis. Tidak harus masuk setiap hari, tapi tetap bisa belajar. Ini program yang sangat baik dan perlu terus didukung,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa tingginya jumlah peserta didik di PKBM merupakan hal yang wajar, mengingat jangkauan layanan tidak terbatas wilayah.

“Pesertanya bisa dari mana saja, tidak hanya dari Kediri. Jadi kalau jumlahnya ratusan bahkan lebih itu hal yang wajar,” jelasnya.

Selain itu, PKBM juga memiliki peran sosial yang kuat, terutama dalam membantu masyarakat usia dewasa yang tidak lagi mendapatkan bantuan pendidikan formal dari pemerintah. Dengan semangat gotong royong dan kepedulian, lembaga ini tetap memberikan layanan pendidikan bagi semua kalangan.

Keberadaan PKBM seperti Ajisaka membuktikan bahwa pendidikan tidak mengenal batas usia, waktu, maupun latar belakang. Di tengah berbagai tantangan, PKBM hadir sebagai jembatan harapan—memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang ingin bangkit melalui pendidikan.

Dengan dukungan semua pihak, PKBM diharapkan terus berkembang dan menjadi pilar penting dalam mewujudkan masyarakat yang lebih cerdas, mandiri, dan berdaya saing.

(tim)

Posting Komentar

0 Komentar