SUMENEP,kompasnusantara.id– Memasuki bulan Sya’ban 1447 Hijriah, umat Islam di Kabupaten Sumenep mulai menghidupkan kembali tradisi saling memaafkan sebagai bentuk persiapan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Bulan Sya’ban yang berada di antara Rajab dan Ramadhan dipandang sebagai momentum penting untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki hubungan sosial, serta membersihkan hati dari rasa dendam dan kebencian.
Salah satu tradisi yang masih dijaga hingga kini adalah saling menyampaikan ucapan maaf, baik kepada keluarga, kerabat, tetangga, maupun sesama umat Muslim. Tradisi ini tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam dalam ajaran Islam.
Dalam Islam, memaafkan merupakan perbuatan mulia yang sangat dianjurkan. Dengan saling memberi maaf, umat Islam diharapkan mampu memperkuat ukhuwah Islamiyah serta menciptakan suasana harmonis di tengah masyarakat.
“Bulan Sya’ban menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan, membersihkan hati, dan mempersiapkan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki Ramadhan,” ujar salah seorang tokoh masyarakat di Sumenep, Senin (2/2/2026).
Selain mempererat silaturahmi, tradisi saling memaafkan juga diyakini dapat menghadirkan ketenangan batin. Dengan melepaskan rasa marah dan iri hati, seseorang dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk dan penuh keikhlasan.
Di berbagai daerah di Sumenep, tradisi ini kerap diwujudkan melalui kegiatan silaturahmi keluarga, pengajian, hingga doa bersama. Masyarakat saling berkunjung untuk meminta maaf atas kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja.
Tidak sedikit pula keluarga yang menggelar doa bersama guna memohon ampunan Allah SWT serta meminta kemudahan dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan.
Meski demikian, para tokoh agama mengingatkan bahwa permintaan maaf tidak cukup hanya diucapkan secara lisan. Permohonan maaf harus disertai dengan niat tulus untuk memperbaiki diri dan tidak mengulangi kesalahan di masa mendatang.
“Maaf yang tulus harus dibuktikan dengan perubahan sikap dan perilaku yang lebih baik,” tambahnya.
Dengan menjaga tradisi saling memaafkan di bulan Sya’ban, masyarakat diharapkan dapat menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, serta semangat ibadah yang lebih kuat.
Tradisi ini juga dinilai mampu memperkuat nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan kepedulian sosial, sehingga tercipta kehidupan bermasyarakat yang lebih damai dan harmonis.
Semoga semangat saling memaafkan di bulan Sya’ban terus terjaga dan menjadi bekal spiritual bagi umat Islam dalam meraih keberkahan di bulan Ramadhan.
(Yadi/As)

0 Komentar