Sumenep-kompasnusantara.id – Seorang wartawan dari Kompas Nusantara resmi melaporkan seorang pegawai SPBU di wilayah Sumenep, ke Polres Sumenep, setelah dirinya mendapat ancaman kekerasan. Laporan ini dilakukan setelah insiden pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar ke dalam jerigen di SPBU tersebut, yang merupakan pelanggaran terhadap peraturan Pertamina.06/10/2024
Peristiwa bermula ketika wartawan tersebut tengah meliput aksi ilegal pengisian BBM solar bersubsidi ke jerigen oleh operator SPBU bernama Noval pada tanggal 2 Oktober 2024. Saat dimintai keterangan dan didokumentasikan oleh wartawan, Noval tidak hanya menolak bekerja sama, tetapi juga melontarkan cacian dan ancaman serius dalam bahasa Madura. Ancaman berupa "coco" (ditusuk) dilontarkan Noval, disertai klaim bahwa dirinya merupakan sosok yang berpengaruh di daerah tersebut.
Kasus ini tidak hanya melibatkan pelanggaran pengisian BBM bersubsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi kendaraan bermotor, tetapi juga menyangkut kebebasan pers. Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, setiap orang berhak mendapatkan informasi, sementara jurnalis memiliki kewajiban untuk menyampaikan informasi tersebut kepada publik. Ancaman dan upaya menghalangi tugas jurnalis merupakan pelanggaran hukum yang serius.
Selain itu, tindakan ancaman fisik yang dilontarkan oleh Noval dapat dijerat dengan pasal-pasal terkait pengancaman dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Tindakan kekerasan seperti ini menunjukkan perlunya penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran yang tidak hanya mengganggu hak konsumen tetapi juga mengancam keamanan dan kebebasan jurnalis.
Saat ini, pihak wartawan telah melaporkan insiden ini kepada Polres Sumenep, berharap agar proses hukum dapat segera berjalan. Di sisi lain, Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bertanggung jawab atas distribusi BBM bersubsidi diharapkan segera mengambil langkah investigasi dan memberikan sanksi kepada oknum operator yang melakukan pelanggaran.
"Kami berharap pihak kepolisian segera mengambil tindakan terhadap pelaku dan memberikan keadilan sesuai dengan hukum yang berlaku," ungkap wartawan Kompas Nusantara yang menjadi korban ancaman tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat penting akan perlunya menjaga integritas hukum dan kebebasan pers di Indonesia, serta penegakan aturan yang lebih ketat dalam distribusi BBM bersubsidi. Masyarakat berharap agar kejadian serupa tidak terulang dan pihak yang melanggar hukum dapat dihukum sesuai ketentuan yang berlaku.
( Red )
0 Komentar